Diposkan oleh Tri Wahyu Apriyanto 2 komentar » Posted in

Budaya Jombang Gambus Misri




Riwayat Gambus Misri

Oleh: Nasrul Ilahi*

      Gambus Misri merupakan salah satu kesenian rakyat yang pernah hidup dan berkembang di Kabupaten Jombang. Belum ada kajian khusus yang mengupas secara serius perihal Gambus Misri ini. Bagaimanakah keberadaan dan perkembangan Gambus Misri, mengapa Gambus Misri kemudian seakan-akan telah punah? Pertanyaan ini tampaknya masih amat sulit untuk dijawab, dan karenanya, tulisan ini diniatkan sebagai penelusuran awal untuk kemudian dapat dikembangkan secara lebih luas dan menyeluruh.
Berikut ini merupakan catatan lepas-lepas yang mencoba untuk mengurai benang merahnya. Catatan ini hanya merupakan pintu masuk darurat yang mencoba menguak tabir yang menyelimuti Gambus Misri. Pertemuan dengan beberapa pelaku dan penikmatnya coba dihadirkan untuk memberikan gambaran awal atas upaya penelusuran, penggalian, rekonstruksi, revitalisasi, pelestarian, dan pengembangan Gambus Misri ke depan. Hal ini disebabkan Gambus Misri merupakan salah satu kekayaan budaya Jombang yang besar nilainya.

Sejarah Gambus Misri

Menurut Almarhum Badar Alamudy, mantan aktor utama Gambus Misri “Mawar Bersemi”, bahwa kata “Misri” berasal dari kata “Mesir”. Gambus Misri merupakan orkes gambus yang banyak mengandalkan lagu-lagu Mesir, karena pada waktu itu lagu-lagu padang pasir yang berasal dari Mesir sangatlah populer. Komidi Stambul (Istambul) yang populer pada awal abad ke-20 terbilang banyak mengangkat lagu-lagu Mesir. Gambus Misri merupakan representasi kesenian kaum santri di Jombang. Oleh karena itu, mulanya cerita yang dibawakan Gambus Misri merupakan cerita yang bernafaskan keislaman.
Kelahiran Gambus Misri didorong oleh beberapa hal, antara lain: kebutuhan penyaluran ekspresi dan kreasi, maupun kebutuhan hiburan dan penyegaran; kebutuhan mengimbangi kesenian rakyat lain yang waktu itu tidak mungkin diikuti dan dinikmati kalangan santri, seperti ludruk, jaran kepang, dan lainnya; dan kebutuhan menyampaikan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat.

Bentuk Kesenian Gambus Misri

Kesenian Gambus Misri maupun ludruk memiliki struktur penyajian yang tidak jauh berbeda. Unsur utama kedua kesenian ini adalah lakon atau pementasan cerita yang diselingi oleh tari-tarian, nyanyian-nyanyian, lawakan, serta yang bersifat atraktif. Yang membedakan adalah visi dan misinya. Hal ini menyebabkan pilihan suguhannya juga berbeda. Sesuai dengan visinya yang ingin mentransformasi nilai-nilai Islami, Gambus Misri semula menampilkan nyanyian, tarian, dan lakon yang bernafaskan keislaman. Nyanyian yang dibawakan pada awal Gambus Misri merupakan lagu-lagu padang pasir, terutama yang dari Mesir. Dalam perkembangan selanjutnya, banyak dibawakan lagu-lagu Melayu klasik, kemudian disusul lagu-lagu kreatif seperti lagu-lagu A. Kadir, A. Rafiq, Ida Laila, dan lain-lainnya.
Gambus Misri mengalami terus pasang surut lalu menjadi suram ketika mulai muncul lagu-lagu dangdut-rock yang dirintis Rhoma Irama. Unsur lawakan, tarian, dan ceritanya pelan-pelan tergusur. Gambus Misri tergantikan oleh konser musik dangdut-rock, laiknya konser musik Deep Purple, Led Zeppelin, dan musik ala India maupun lainnya yang nuansa musiknya banyak mempengaruhi Raja dangdut tersebut. Lagu-lagu Mansyur S dan lainnya yang masih bernuansa Indonesia tidak mampu mengangkat Gambus Misri dari keterpinggirannya.
Tari-tarian yang muncul di Gambus Misri kebanyakan menjadi bagian dari pembawaan lagu. Hal ini dibawakan oleh penyanyi tunggal, atau sekelompok penyanyi (duet, trio, kuartet, koor), maupun oleh penari latar. Di samping itu ada tarian lepas yang semula mengangkat tarian perut dari padang pasir, kemudian tetarian dari daerah Melayu, dan yang terakhir adalah tari-tarian dari berbagai daerah ataupun dari belahan dunia lainnya.
Lakon dalam Gambus Misri

    Lakon-lakon yang diangkat dalam Gambus Misri semula adalah cerita seputar sahabat Nabi, semisal: “Masuk Islamnya Umar bin Khattab”, “Keteguhan Iman Sahabat Bilal”, “Kepahlawan Amir Hamzah”, Thariq bin Ziyad”, “Shalahuddin Al-Ayubi”, “Umar-Amir atau Umarmaya dan Umarmadi”, juga cerita-cerita dari kisah monunemntal Seribu Satu Malam, dan lain sebagainya. Kemudian muncul cerita keislaman dari dalam negeri, semisal: “Sunan Kalijaga”, “Pangeran Diponegoro”, “Tuanku Imam Bonjol”, dan lain-lain. Pada masa akhir kejayaan Gambus Misri, banyak cerita dari berbagai belahan dunia yang populer melalui film layar lebar (bioskop) pada waktu itu, semisal: “Samson Tenggara”, “Herkules”, “Gladiator”, dan banyak lagi lainnya. Tidak ketinggalan cerita-cerita Panji juga dimunculkan, semisal: “Timun Emas”, “Ande-Ande Lumut”, “Panji Laras”, dan lainnya.

Lawakan dalam Gambus Misri

        Lawakan dalam Gambus Misri juga menggunakan “pur-puran” seperti halnya di ludruk, hanya saja tidak menembangkan jula-juli. Gambus selalu dimulai dengan lagu “Selamat Datang” yang sangat khas. Lawakan Srimulat yang sekarang ini mungkin bisa dianggap berasal dari lawakan Gambus Misri. Perlu diketahui, Pak Asmuni (almarhum) lebih kental hubungannya dengan Gambus Misri ketimbang dengan ludruk. Kita kenal nama Abdul Kadir, pelawak yang selalu menggunakan aksen Madura, merupakan seniman yang merambah dunia kesenian dari pertunjukan Gambus Misri. Semula ia adalah penjual makanan keranjang jinjing dalam pementasan “nggedong” Gambus Misri, yang kemudian dipercaya sebagai pengerek layar. Ketika ada salah seorang pelaku (aktor) yang berhalangan, Kadir disuruh menggantikannya, dan ternyata tampilannya cukup bagus. Sejak saat itu ia menjadi pemain dan pelawak tetap Gambus Misri sebelum hijrah ke Srimulat.

Revitalisasi Gambus Misri
    Terpendamnya Gambus Misri sejak dasawarsa 1980-an merupakan fenomena hilangnya salah satu kekayaan budaya Jombang yang patut disayangkan. Oleh karena itu, upaya penggalian kembali, merekonstruksi, dan merevitalisasi merupakan langkah positif yang harus didukung oleh semua stakeholders kesenian Jombang. Tim Pelestarian dan Perlindungan Seni-Budaya Jombang memulai dengan pedoman “Think big, start small, at now”. Disporabudpar (sejak masih berkantor di Parbupora) sudah memulai dengan mencoba menampilkan kembali Gambus Misri. Ada tiga kali upaya penampilan. Yang pertama di Alun-alun Jombang. Almarhum Badar Alamudy mencoba menampilkan kembali Gambus Misri. Langkah awal ini terkendala oleh sumber daya manusia. Yang muncul adalah orkes dangdut plus lakon ludrukan. Yang kedua grup Gambus Misri tampil di Anjungan Jawa Timur Taman Miniatur Indonesia Indah. Hasilnya seperti operet model India laiknya di televise, tapi masih berbau ludrukan. Yang ketiga, dipentaskan di acara Pekan Budaya Jombang pada 2008. Hasilnya masih lebih kurang sama, tapi dari segi lakon, cukup dinamis.

        Saat ini Tim Pelestarian dan Perlindungan Seni-Budaya Jombang sedang dalam tahap penelusuran dan penulisan jejak-jejaknya dalam bentuk tulisan-tulisan pendek semacam ini. Mudah-mudahan ikhtiar revitalisasi ini dapat terus dikembangkan secara tepat-guna dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, terutama para sesepuh pengemban seni tradisi Gambus Misri ini.


Jombang, 7 Juni 2009
*Nasrul Ilahi, Pemerhati budaya dan sebagai Kasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kesenian pada Disporabudpar Jombang.

2 komentar:

Anonim Says:

Membaca tuliasan tentang Gambus Misri ingatan saya melayang kembali ke masa kanak kanak dan masa remasa saya yaitu era tahun 60 dan 70 an. Di Mojokerto kesenian Gambus Misri merupakan kesenian favorit dan bahkan kaesenian alternatif bagi kaum mutihan atau lebih dikenal dengan kaum santri..

Memang benar tulisan Sdr Nasrun Ilahi bahwa pada masa itu kalangan santri “kurang sreg” untuk “nanggap ludruk” yang kontasi ludruk pada waktu itu terkesan kesenian milik “kaum abangan”..

Gambus misri era 60 an yang terkenal adalah Gambus Misri “Bunga Mawar”, saya ingta betul karena pada waktu saya dikhitan ayah saya nanggap Gambus Misri “bunga Mawar” (yang kebetulan sepupu saya alm Kosim adalah salah satu anggauta Gambus Misri Bunga Mawar ) dengan lakon “ali baba” dan penontonnya benar benar mebludag.

Baru kenmudian muncul Gambus Misri “Mawar bersem” (saya kutrang faham apakah ibi merupakan kelanjutan dari Gambus Misri Bunga Mawar) yang setelah meletus peristiwa G/30.S /PKI diasuh oleh KODIM Jombang.

Saya sangat berterima kasih apabila Pemda Jombvang berusaha menelusuri kembali bahkan “menghidupkan” seni rakyat ini dan Insya Allah bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perklembangan jaman/

Mudah2an, Amin

(H.Achmad Sjafi’i) Losari-Gedek-Mojokerto

Anonim Says:

Gambus misri sendiri dapat dikatakan sebagai budaya tanding, ketika memandang ludruk sebagai kesenian orang abangan,tapi sayangnya genre kesenian ini tidak dapat bertahanan seperti kesenian ludruk, hal ini disebabkan oleh keberadaan pelaku gambus misri sendiri yang mungkin sudah banyak yang yang meninggal ataupun tidak terdeteksi secara baik. saya sangat tertarik untuk mengetahui bagaimana struktur pertunjukannya, namun hal ini tertunda dengan keberadaan informan yang belum banyak saya ketahui, jikalau ada yang mempunyai kontak dengan pelaku kesenian Gambus Misri ini, dengan hormat saya meminta informasinya.
Terima Kasih

Poskan Komentar

Ane harap agan bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk sedikit memberi komentar. Karena komentar agan merupakan motivasi bagi ane. Dan juga tidak lupa ane haturkan banyak terima kasih atas kunjungan juragan.
Monggo berkomentar...