Diposkan oleh Tri Wahyu Apriyanto 0 komentar » Posted in

TATA BENTUKAN BAHASA INDONESIA

TATA BENTUKAN BAHASA INDONESIA

Gejala baru dalam tata bentukan
Setiap bahasa mempunyai kaidah (aturan), mempunyai sistem. Bahkan adakalanya dikatakan bahwa bahasa adalah sistem, yaitu sistem lambang, yang bersifat manasuka atau arbitrer. Mengenai hal ini telah banyak dibicarakan dalam buku ilmu bahasa. Yang kita perlukan disini: “Apakah sistem itu”?
Sistem adalah ketentuan atau ketetapan wujud dalam peristiwa-peristiwa bahasa. Sekarang timbul pertanyaan, sampai dimanakah ketetapan wujud itu dapat bertahan? Wujud yang manakah yang dianggap wujud yang baku? Kedua pertanyaan ini perlu diperhatikan.
Ketetapan wujud itu terdapat dalam berbagai bentuk ketatabahasaan, diantaranya pada struktur kata, struktur kalimat, dan tata bentukan.
Ketetapan wujud pada struktur kata, misalnya: kata makan telah memiliki bentuk yang tetap. Fonem-fonemnya tidak dapat diubah-ubah urutannya, menjadi: amnak, kanam, nakam, dan sebagainya, karena akan melanggar sistem dan tidak dapat dipahami dan komunikasi. Jdai, kata makan telah memiliki bentuk yang tetap. Begitu pula kata-kata: sepeda, jalan, tidur, bangun, dan sebagainya. Tetapi tidak mustahil dahulu bentuknya tidak begitu. Sebaliknya ada juga kemungkinan sekian ratus tahun yang akan datang kata tersebut akan berubah bentuknya.
Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa  kata di (preposisi, kata depan) dan morfem di- (prefiks) memiliki bentuk yang sama, tetapi mempunyai fungsi yang berbeda, karena sejarah asalnya tidak sama. Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa: kata di (preposisi) berasal bahasa Kawi ri (juga bahasa Batak), sedangkan ri berasal dari re (bahasa Munda) yang berfungsi preposisi seperti sekarang.
Prefiks di- berasal dari bahasa Kawi (juga bahasa Melayu Kuno): ni. Unsur ni ini ada hubungannya dengan sisipan -ini- yang sama artinya dengan di- (Slametmuljana, 1964: 75 dan 114).
Ketetapan wujud dalam struktur kalimat, perhatikanlah kalimat: Ahmad sedang makan di rumah.
Kalimat ini terdiri dari tiga kelompok, yaitu: ahmad, sedang makan, di rumah. Perpindahan urutannya (permutasi) dapat terjadi sepanjang tidak mengubah susunan kelompok (gatra), atau tidak bertetangan dengan sistem yang berlaku. Misalnya menjadi ;
Sedang makan / Ahmad / di rumah.
Sedang makan / di rumah / Ahmad.
Di rumah / Ahmad / sedang makan.
Di rumah / sedang makan / Ahmad.
Tetapi tidak mungkin terjadi :
Makan sedang Ahmad rumah di.
Jadi, terlihat juga adanya sistem di dalam struktur kalimat bahasa Indonesia.
Yang akan kita tinjau sekarang adalah mengenai ketetapan wujud di dalam pembentukan kata, dalam wujud kata bentukan. Adanya afiks yang produktif dan yang tidak produktif. Karena di dalam bahasa Indonesia tidak semua afiks digunakan secara efektif. Yang produktif, dalam arti yang dapat digunakan untuk membuat bentukan-bentukan secara teratur, tidaklah banyak; seperti:
1.    reduplikasi    :    mata-mata
2.    ber-    :    berjalan
3.    ber-an    :    berjauhan
4.    me – (m, n, ng, ny)    :    melawat, membeli, menjadi, mengganti, menyapu.
5.    me (m, n, ng) – i    :    melebihi, membanjiri, mendatangi, mengungguli.
6.    me (m, n, ng) – kan    :    melakukan, membandingkan, menjajakan, menggelikan.
7.    memper – (kan)    :    memperlebar, mempertinggi, memperkenankan.
8.    se-    :    seputih, sejajar, selaras.
9.    ter-    :    terhebat, terbesar.
10.    -an    :    harian, harapan, makanan.
11.    per (m, n, ng)    :    perantaraan, permainan, pembelaan, penjagaan, penggalian.
12.    pe (m, n, ng)    :    pelengkap, pembantu, penjudi, pengganggu.
13.    ke – an    :    kekerasan, keheranan.
Oleh karena jumlah afiks begitu sedikit, sedangkan pemakaiannya begitu banyak, maka akibatnya alat-alat pembentuk kata itu memiliki lebih dari satu ventilasi. Jadi bersifat ambivalen.
Misalnya :
1.    Substantif    :    Ia penyayang binatang.
    Ajektif    :    Tuhan Maha Penyayang.
2.    Substantif    :    kebesaran jiwa.
    Verbum    :    Saya tadi kehujanan.
3.    Ajektif    :    bajunya berdarah.
    Verbum    :    Ia berbaju.
Dari contoh-contoh di atas nyatalah bahwa bentukan-bentukan dengan afiks yang sama dapat dimasukkan ke dalam pelbagai jenis kata. Kenyataan ini menyebabkan bahwa semua bentuk kata memiliki kemungkinan untuk menempati lebih dari satu fungsi dalam kalimat, atau dengan kata lain memiliki labih dari satu valensi (Wojowasito, 1970 : 59-62).
Gejala baru dalam pembicaraan ini tidak mungkin dibatasi secara ketat, karena proses perkembangan bahasa sangat kompleks. Di dalamnya terlihat berbagai aspek, seperti misalnya masuknya konsep-konsep baru dalam ilmu pengetahuan, yang mempunyai implikasi perlunya dicari/diciptakan istilahistilah atau bentukan kata-kata baru yang mewadahinya.
Kenyataan itu tidak bisa dihindarkan sebab bahasa berkembang sejajar dengan perkembangan masyarakatnya. Masyarakat Indonesia mengalami perkembangan yang demikian pesat, terutama pada akhir-akhir ini, baik dibidang penemuan-penemuan baru, maupun dalam bidang ilmu dan teknologi. Di antara gejala-gejala baru itu adalah :

(1)Prefiks pasif + prefiks aktif + bentuk dasar + (sufiks)
    Perhatikan contoh kalimat di bawah ini:
para penumpang harap segera naik, kereta api akan segera diberangkatkan.
Keberhasilan suatu program harus diukur berdasarkan komponen-komponennya.
Persoalan itu tidak perlu dirisaukan, tetapi cukup dimengerti saja.
Kata-kata: diberangkatkan, keberhasilan, dan dimengerti sering dipersoalkan orang. Ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju. Yang tidak setuju menyatakan berkeberatan, karena dua prefiks yang pada hakekatnya bertentangan (yang satu pasif, dan yang lain aktif) itu tidak dapat digunakan bersama-sama.
Ada yang berpendapat supaya dimengerti diganti dengan dipahami. Tetapi kata mengerti dan paham mempunyai gradasi pengertian yang tidak sama. Kalau konsep yang diinginkan itu memang mengerti, kita harus melihatnya dengan cara lain. Apakah bentuk dasar mengerti? Kita tidak dapat menjawabnya dari: erti: sebab kata erti tidak dipakai lagi dalam bahasa Indonesia; yang dipakai: arti. Karena itu bentuk dasar bukanlah erti, melainkan: mengerti, yang disebut dengan istilah bantuk dasar sekunder. Maka seharusnya pandangan kita begini :



Sekarang gantilah X itu dengan kata mengerti, maka terjadilah bentukan dimengerti.
Demikian pula dengan : diberangkatkan, kita lihat sebagai berikut :



Seperti di atas X itu diganti dengan kata berangkat, maka terjadilah bentuk diberangkatkan. Bentukan tersebut tidak hanya dapat, tetapi harus ditermia, sebab artinya akan lain bila dikatakan:
- Kereta api akan segera diangkatkan.
Memang dahulu kata angkat berarti berangkat (pergi) seperti yang masih terpakai dalam bahasa Sunda:
- Bade angkat ke mana, Agan ?
  ‘Mau berangkat ke mana, tuan ?
Begitu pula bentuk keberhasilan, kita lihat seperti tadi dengan bentuk dasar berhasil, lalu memperoleh ke-an menjadi keberhasilan. Maka atas dasar inilah terbentuk pula bentuk-bentuk seperti: keberuntungan, kebersamaan, kebermaknaan, dan sebagainya.
(2)Konfiks ke –an dan ter--
    Sejajar  dengan  bentukan  di  atas  muncullah  kombinasi  konfiks ke-an  dan ter-;misalnya  pada  :
-Kita  harus  bekerja  keras  untuk  menghapus  keterbelakangan  kita.
-Ketersediaan  sarana  dan  prasarana  harus  dipenuhi  apakah  suatu  program  ingin  berhasil  baik.
-Kita  harus  berusaha  meniadakan  keterasingan  para  siswa  dari  lingkungan-nya.
-Paket  Belajar  untuk  SPG  dinilai  pula  ketercapaiaannya  di  Lembaga  tersebut.
    Kata-kata  di  atas  :  ketrbelakangan,  ketersediaan,  keterasingan,  dan  ketercapaian;  sama  halnya  dengan  pada  butir  (1)  di  atas,  maka  pangkal  bentuk-bentuk  itu  adalah:  terbelakang,  tersediaan,  terasing,  dan  tercapai.  Jadi  baentukanbentukan  tersebut  dapat  dipandang  srbagai  bentukan  ke-an,  seperti  :

 Besar
Adil
indah

 X


(3)Kombinasi  me  (N)-dan  ber-
    Ada  lagi  data  yang  unik  sekali,  yaitu  kombinasi  me(N)-  dan  ber-  yang  jarang  terjadi,  seperti  pada  :

Mendidik  pada  hakekatnya  adalah usaha  membelajarkan  siswa.
Maksudnya  mendidik  itu  merupakan  usaha  untuk  membuat  siswa  dapat  belajar  sendiri.  Jadi  siswa  harus  aktif,  bukan  lagi  sebagai  objek  didik,  sesuai  dengan  prinsip  CBSA  (Cra  Belajar  SISWA  Aktif).  Karena  diperlukan  cara  yang  lebih  singkat,  tetapi  cukup  efektif  untuk  menjelaskan  konsep  tersebut  maka  timbullah  bentukan  yang  unik  itu  :  membelajarkan.
      Contoh  lain  yang  sejajar  dengan  itu  ialah  :
Pemerintah  memberlakukan  peraturan  itu  sejak  tahun  ini.
    Bentuk  memberlakukan  secara  konsep  sesuai  dengan  yang  dimaksud,  yaitu  membuat  peraturan  itu  berlaku.  Walaupun  sebenarnya  masih  ada  cara  lain  untuk  menyatakan  dan  cara  itu  tidak  terlalu  jauh  dari  konsepnya  yaitu  :
-Pemerintah  meyatakan  berlaku  peraturan  itu  sejak  tahun  ini.
-Pemerintah  menyatakan  peraturan  itu  berlaku  sejak  tahun  ini.

(4)Di  dalam  bahasa  indonesia  sekarang  banyak  digunakan  kata  :  data-data,  misalnya  :
    -Data-data  yang  telah  terkumpul  akan  diseleksi,  kemudian  dikelompok-                 kelompokkan,  dianalisis,  lalu  disimpulkan.
    Kata  Data  berasal  dari  bahasa  Latin  yang  menunjukkan  bentuk  jamak,  sedangkan  bentuk  tunggalnya:  datum.  Yang  kita  pungut  hanyalah  bentuk  data,  sedangkan  bentuk  datum  tidak.  Itulah  sebabnya  timbul  kecenderungan  untuk  memperlakukan  data  sebagai  bentuk  tunggal  (bahasa  indonesia  tidak  mengenal  bentuk  jamak),  sehingga  arti  jamaknya  dinyatakan  dengan  mengulang  kata  itu.
    Contoh  lain  ialah  kata  fakta,  yang  di  dalam  bahasa  Latinnya  menyatakan  jamak;  sedangkan  bentuk  tunggalnya  adalah  faktum  tidak  kita  pungut.  Itulah  sebabnya  dalam  pemakaian  bahasa  Indonesia  terdapat  pengulangan  kata  itu  menjadi : fakta-fakta.
    Lain  hyalnya  dengan  kata  yang  dipungut  dari  bahasa  Arab  seperti  :
    -  unsur  (bentuk  tunggal)        -  anasir  (bentuk  jamak)
    -  ruh  (bentuk  tunggal)            -  arwah  (bentuk  jamak)
Karena kedua-duanya  dipungut  ke  dalam  bahasa  Indonesia  dan  tidak  mengalami  pergeseran  arti,  maka  pemakaian  bentuk  anasr-anasir  tidak  dibenarkan,  seharusnya  yang  dipakai  adalah  :  unsur-unsur.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ane harap agan bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk sedikit memberi komentar. Karena komentar agan merupakan motivasi bagi ane. Dan juga tidak lupa ane haturkan banyak terima kasih atas kunjungan juragan.
Monggo berkomentar...